Kau tak pernah mau mengerti
Kau ajak aku bermain dalam imajinasi
Yang tak pernah ada arti
Lembayung senja bukti ketidak abadian
Saat warna berubah dari satu warna kelain warna
Begitu juga hati mu
Sungguh ku tak berdaya dalam topeng perasaan
©©©
Pagi cerah di kota seribu sungai. Sang surya menampakkan warna keemasan nan megah, burung pipit bertengger didahan jambu mengeluarkan dendang lagu keagungan alam lewat kicauan nan merdunya.
Pikiran ku melayang jauh mengingat pembicaraan ku tadi malam bersama abangku, kata-katanya membuat jiwa ku tersadar akan permainan perasaan ku terhadap orang-orang yang mengharap siraman air cinta ku untuk memupuk benih-benih asmara yang ada dihati mereka.
Aku teringat Firhan, pemuda yang selalu mengejar dan menawarkan sejuta perasaan yag ada di hatinya sejak aku duduk di bangku SMA.
Namun, kelakuannya yang sering mabuk-mabukan dan clubbing setiap ada masalah membuat aku jadi berpikir untuk menerima tawaran perasaannya. Namun, sejujurnya aku sangat menyayanginya tapi karena sikapnya lah aku menyembunyikan perasaan ku.
Nadi, orang yang baru ku kenal sejak masuk kuliah ikut menghiasi lamunan ku.
Dia yang selalu memberikan warna setiap malam-malam ku lewat kata-kata puitisnya di telpon membuat aku merasa jadi bidadari di setiap malam yang dingin.
Sama halnya dengan Firhan, dia juga mengharapkan oase kemesraan untuk menghilangkan kedahagaan cintanya.
Dimas teman dekat abang ku, tak luput dari topik lamunan diriku, baru tadi malam ku ketahui dia juga menyimpan segunung perasaan sayang terhadap diriku.
Tapi aku ngga perduli dengan perasaannya sebab aku hanya meanggap dia tak lebih dari kaka walaupun kuakui kadang aku memberikan getar-getar asmara terhadapnya.
Andy sesosok lelaki yang berperawakan gemuk dan kurang menarik yang ku kenal kemarin ternyata juga ikut dalam intuisi permainan ini.
Oh, Tuhan apa yang telah kulakukan.
Benarkah aku sudah mempermainkan sebuah hati.
Yang mana hati itu adalah anugerah darimu.
Sejuta makna yang dalam tak sanggup aku selami
Mungkin aku adalah seorang pendosa besar
Yang telah berani mempermainkan perasaan oranglain
Apa yang harus kulakukan Tuhan?
Saat mereka berharap dariku
Yang kuberi hanya harapan yang tak menentu
Lita ayo berangkat, entar telat! Teriak Nadia membuyarkan lamunan ku. Segera ku ambil tas kecil ku untuk berangkat pergi kuliah, dengan langkah kaki yang guntai aku menapaki tangga kost untuk menuju teman-temanku yang sejak tadi menunggu ku.
“Dan aku sudah pernah bilang jangan lah kamu terlalu sayang
Dan jika kau menghilang ku masih punya lelaki cadangan”
Maklum lagu ini lagi ngetop-ngetopnya jadi ku set saja jadi nada dering di ponsel ku. Kuangkat telpon yang sedari tadi sudah menari-menari mengharap sentuhan tangan ku yang lembut.
Hallo, lita kamu sore ne sibuk ngga? Terdengar suara Nadi di seberang sana.
Kenapa? Ucapku rada-rada cuek
Kita jalan yu??? Rayunya.
Ehm, gimana ya? Kataku ragu
Ayolah, sekali ini saja? Ada hal penting yang ingin ku bicarakan, please. Desaknya
Ok,!!! Jawab ku
Makasih Lita, ku jemput jam 16.00 wita ya dikost. Bye
Bye… kututup ponsel ku
Ada hal penting apa yang ingin Nadi bicarakan.
Apakah dia sudah tau tentang sikap ku selama ini hanya mempermainkannya.
Berbagai macam pertanyaan pun mulai bersarang di kepala ku.
Hey, Lita dari pagi tadi ku perhatikan kau melamun saja? Tegur Nadia
Tidak apa-apa kok?? Jawabku
Ah, pasti kau bohong. Biasanya kau tak seperti ini
Benar aku ngga apa-apa! Kataku tegas
Oke, kalau githo ayo kita pulang… ajak Nadia
Ku lirik Jam dinding menunjukkan 15.45 wita. Aku masih bingung dengan pertanyaan yang ada di benakku.
Ku lihat Nadia sedang asyik dandan dikamarnya, dengan wajah yang begitu ceria sambil bernyanyi riang.
Nadia adalah kawan akrab ku di kost dan kota ini, dia orang yang paling mengerti aku di banding kawan-kawan di kost yang lain.
Duch yang lagi siap-siap ngedate candaku padanya.
Tapi Nadia hanya mengeluarkan senyum mautnya.
Jam berapa kamu jalan Nad, tanyaku
16.30 wita coz nunggu ka Rasha pulang kul!! Tukasnya. Kamu ngga jalan Lita.
Tau dech!!! Jawabku, mang ka Rasha pulang jam berapa?
Jam 16.10 wita. Makanya aku siap-siap duluan.
Tiba-tiba ponsel ku berdering, kulihat dilayar ada tulisan 1 new massage. Dalam hati ku bertanya dari siapa ya? Segera ku buka dan terlihat pesan dari Nadi.
Lita, sudah siap apa belon? Ne ku udah di jalan. Kira-kira 15 menit nyampai.
Ku pun segera membalas pesan itu. Dan kembali kekamar untuk siap-siap.
Deru motor Satria F terdengar di depan kost ku, ku lihat Nadi dengan pakaian parlente menjemputku, Aku segera turun untuk menghampirinya.
Kita berangkat sekarang Tanya Nadi
Sebentar aku pamitan dulu sama Nadia
Oke, aku tunggu ya!!!
Setelah pamitan kami pun berangkat menuju Mall terbesar di kota ini. Dalam perjalanan pertanyaan itu masih saja menghantui pikiran ku.
Kenapa kamu Lita, dari tadi kok Cuma diam Tanya Nadi
Pertanyaan itu membuat ku kaget, ngga ada apa-apa kok.! Jawabku gugup.
Oh, kirain kamu sakit ! kita nonton ya Lit, ajak Nadi
Terserah, kataku menghilangkan kegugupanku.
Setelah nonton kami pun menuju KFC untuk mengisi perut yang sejak siang tadi makhluk di dalamnya sudah berdemo mengharap di berikan nafkahnya.
Lita, boleh aku berkata jujur. Kata Nadi membuka suasana
Ya, kau jujur lebih baik. Jawab ku
Nadi pun terdiam sejenak seraya menyusun kata-kata terbaiknya, sedangkan aku tegang dengan hati berdebar-debar berharap segera mendengar apa sebenarnya yang ingin dikatakan Nadi.
Lita, aku ingin kau menjadi bagian dalam hati ini yang selalu menghiasi dan memberi warna dalam hidupku.
Ku ingin kita selalu bersama megarungi bahtera kehidupan yang tak berujung. Mau kan Lita kau menjadi kekasihku. Pinta Nadi
Bagaimana ya Di. Aku masih bingung. Kataku
Kenapa kau bingung, apakah kau tak percaya dengan ku. Balas Nadi
Aku percaya sama kamu, tapi……….kataku terhenti
Apa kau sudah punya orang yang mengisi hatimu. Tanya Nadi lagi
Aku menjadi tidak karuan detak jantungku semakin kencang dan darah ku seakan mengalir cepat dan aku hanya bisa diam.
Kemudian Nadi kembali berkata:
Jika memang hatimu tak bisa menerima diriku, karena dirimu sudah memiliki orang yang selalu memberikan curahan kasih sayang lebih besar dariku. Aku rela.
Tapi satu pintaku, biarkan aku mencintai dirimu walau lewat imajinasiku biarkan sepotong relung hatimu untukku.
Aku pun masih diam tanpa kata-kata yang terucap dari mulutku, dan membiarkan suasana membuku tanpa ada sinar kehangatan.
@@@
Malam begitu dingin dengan cuaca mendung, semendung dengan hatiku yang bingung akan kejadian sore tadi. Pertanyaan Nadi masih menari-nari di otakku yang enggan berpikir masalah ini.
Kulihat Nadia sedang asyik bercanda dengan ka Rasha dan abangku di kost sebelah. Tiba-tiba aku tersentak kaget ada suara memanggil namaku di sebelah.
Aku segera keluar, ternyata ka Dimas memanggilku dengan syair lagunya, aku menghampirinya sambil say-say hello githo dech, ma penghuni yang ada disekeliling ku,begitu juga mereka membalas dengan senyuman. Terlebih abangku dengan celoteh manjanya.
Ka Dimas pun menghampiriku seraya mengajakku untuk jalan cari makan diluar.
Semula ku ngga ada nafsu makan tapi dari pada ku bengong mikirkan kejadian sore tadi, aku mau menerima tawaran ka Dimas.
Kemudian aku pamitan ma semua terlebih ma abangku yang ku ketahui keras dalam menjaga diriku.
Jalannya jangan terlalu malam, dan makan yang banyak ya De!!! Pesan abangku
Sip, bos!!! Jawabku
Kami pun segera meninggalkan semuanya untuk cari warung makan, sekedar menghilangkan stress pikirku.
Mau makan apa Lita? Tanya Ka Dimas
Terserah kaka saja dech! Jawabku
Es teh 2, n nasgor 2 ya pak! Ka Dimas mesan makanan
Aku masih saja diam seribu bahasa tanpa ada kata yang terucap. Kulihat Ka Dimas terus memandang diriku
Aku menjadi serba salah dan senang juga ada yang memperhatikan diriku. (maklum aku kan cewe cantik he he he)
Ayo di makan Lita, ntar keburu dingin! Kata ka Dimas
Iya, ka! Balasku
Malam ini langit mendung, tetapi kenapa hati kaka cerah ya? Kata ka Dimas
Aku yang sudah tau gelagat ka Dimas yang ingin mengutarakan isi hatinya malam ini, hanya tersenyum manis.
Lita, boleh kaka ngomong sesuatu lanjutnya
Boleh jawab ku
Tapi janji jangan marah, ya! Dia kembali berkata
Oce dech, aku janji!.
Tuhan menciptakan sesuatu itu selalu berpasang pasangan, panas diciptakan berpasangan dengan dingin. Langit dengan bumi, laut dengan daratan,
Tuhan juga menciptakan adam dengan Hawa, hati juga diciptakan dua keping walau pun mereka terpisah namun tercipta jadi satu.
Tuhan menciptakan satu keping hati untuk kaka, kaka yakin kepingan satunya terletak pada Lita. Mau kah Lita menyatukan kepingan itu bersama kaka. Tanyanya
Gimana ya ka! Benarkah Tuhan itu menciptakan kepingan hati itu pada Lita. Tanyaku kembali
Kaka yakin begitu, sebab hanya Lita yang bisa membuat kaka bahagia.
Tapi,Lita belum yakin ka!
Sekarang yakinkan hatimu Lita.
Maaf ka! Aku ngga bisa
Kenapa? Kata Dimas dengan wajah penuh harapan
Karena Aku ngga bisa mencintai kaka. Balas ku
Oke, kaka mengerti tapi kaka boleh minta sesuatu
Apa itu ka?
Ketika imajinasi kaka melayang tinggi mengharapkan sang dewi mimpi membawa kelembah kebahagiaan yang tak berarti, ijinkan diriku mencinta walau dalam mimpi.
Meski harus mengemis pada sang Ilahi tuk dapat kan kepingan hati. Yang kini telah pergi. Ungkapnya
Sebelum aku sempat menjawab tiba-tiba ada pesan baru yang muncul dilayar ponsel ku. Langsung kubaca ternyata dari Firhan.
Dulu kita sama-sama satu perahu
Dalam dayungan kerinduan
Kini ku tahu perahu itu sudah hancur
Di terpa oleh badai kenistaan
Kini ku terdampar di pulau yang tak bertuan
Dengan penuh kepastian
Ku berharap ada orang yang bisa menjemputku
Namun di akhir hayat ku tak ada juga yang datang
Terimakasih atas semuanya Tuhan
Kau berikan aku perasaan yang semu
Kini aku rela menemui-Mu
Aku masih bingung dengan sms Firhan itu namun kembali ada pesan baru dari Firhan segera aku baca.
Kau berikan aku perasaan ini
Namun kau tak pernah mau mengerti
Biarkan diriku pergi
Untuk selama-lamanya
Jangan kau kasih aku harapan lagi
Yang ku tahu semua itu hanya palsu.
Aku jadi merasa bersalah terhadap Firhan karena sudah memberikan harapan semu kepadanya. Aku segera mengajak ka Dimas pulang. Dan berdalih bahwa abangku yang nyuruh pulang.
Di kamar aku menangis seorang diri, dengan penyesalan tiada arti karena telah menyakiti beberapa hati.
Ponselku pun kembali bordering kulihat ada pesan baru. Ternyata dari Abangku dan kubaca
Hati tercipta bukan untuk disakiti
Dia anugerah sang Ilahi
Jangan kau kotori
Dengan membaginya kebeberapa hati
Hati tercipta dengan kesatuan yang utuh
Kalau kau ingin memberikan hatimu
Berikan lah seutuhnya
Jangan kau bagi menjadi potongan-potongan kecil
Setelah membaca pesan itu, pikiranku menerawang tinggi mengingat semua kejadian hari ini. Dan kini ku sadar aku telah menyakiti semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar